HP Deskjet D2466 dan Linux
July 15th, 2008 by riza
Ini adalah pertama kalinya membeli printer milik sendiri, hal ini sudah lama dipikirkan dan dipertimbangkan karena ada kebutuhan untuk mencetak ebook simpanan yang sayang kalau tidak dibaca-baca. Jadi mengapa harus dicetak? Alasannya tentu saja karena kalau dicetak akan mudah dibaca dan tanpa ketergantungan dengan komputer atau laptop. Membaca tulisan dikertas juga jauh lebih baik untuk kesehatan mata daripada membaca di depan layar komputer.
Masalah selanjutnya adalah printer jenis dan merek apa? Pertimbangannya tentu saja harus printer yang murah baik dalam harga beli ataupun operasionalnya nanti dan yang tidak kalah penting adalah harus dapat beroperasi dengan baik di linux.

Printer Hewlett Packard (HP) dari dulu sudah dikenal sebagai perangkat yang mendukung gerakan open source, sebagian printernya sudah dapat beroperasi dengan baik di linux, jadi saya memilih printer keluaran HP. Kemudian printer ini harus ekonomis dalam arti dapat diisi ulang dengan baik, di sini saya berkonsultasi dengan toko pengisian ulang tinta printer dan mereka menyarankan printer HP yang menggunakan cartridge 21 untuk hitam dan 22 untuk warna. Setelah pencarian di google sebentar akhirnya pilihan jatuh ke HP Deskjet D2466, harga beli baru di sini waktu itu sekitar 475 451 ribu rupiah, ya relatif murahlah
.
Tadi sih iseng lihat a1gp.com siapa tau ada berita terbaru tentang mobil a1gp ferrari mereka, ternyata malah ada 


a days go this blog go blank… all what i do before that is i installed php 5.2.x to the server and i did it successfully. i have checked all the application like joomla 1.0.x and 1.5.x, qmailadmin, phpmyadmin, gallery1 and 2, also i have checked another wp installation (later i recognized that this wp version higher than mine), everythink is okay except this blog.


Saat ini aku punya 3 tiket Indonesia Grand Racing, 1 tiket diantaranya masih ada di kantor detik.com, gak tau apakah mau diambil apa ngga, yang pasti udah dibayar lunas
Beberapa waktu lalu saya telah berhasil memasang FreeBSD 6.3 di pc rakitan dengan selamat sampai tujuan. Karena pc ini rencananya akan saya pergunakan sebagai desktop sehari-hari, maka tentu saja X harus diaktifkan, adapun kendalanya adalah ketika mencoba mengaktifkan X prosesnya berjalan lama dan membutuhkan sumber daya cpu yang tinggi (hingga 80%), namun parahnya ketika X dimatikan ternyata mengakibatkan system jadi membeku dan (kalau lagi beruntung) akan menampilkan karakter aneh di layar. X sendiri berhasil diaktifkan tanpa kendala, mouse pointer juga berfungsi dengan baik.
jauh lagi, dengan mengenali FreeBSD diharapkan akan mempermudah perkenalan selanjutnya terhadap Solaris, salah satu variasi Unix berkelas enterprise yang penyebarannya telah dibebaskan mulai beberapa tahun lalu. 







